Catatan Puisi #8: Cahaya & Bayang Cahaya dan bayang: dua sisi yang tak pernah bersatu, tapi tak pernah berpisah. Kata Pengantar Ada cahaya yang masuk dari celah jendela, dan ada bayang yang menunggu di lantai. Mereka tidak pernah benar-benar bersatu, tapi keduanya tidak pernah berpisah. Begitu juga dengan hati — ada sisi yang ingin bersinar, dan ada sisi yang memilih untuk diam dalam redup. Antara terang dan gelap, kita belajar membaca bahasa yang tak tertulis: dengung senyap yang mengingatkan, “di sini engkau masih hidup.” Pagi membawa cahaya yang jujur; ia singgah di meja, menimang buku, dan menyentuh dinding tanpa memohon izin. Senja membawa bayang yang panjang; ia bersandar di lantai, sambil memeluk sudut-sudut rumah yang kita selalu lupa. Di antara dua kunjungan ini, kita menjadi manusia — yang kadangkala berani memandang, dan kadangkala hanya mampu memejamkan mata sambil berdoa. Catatan ini bukan tentang...
Catatan peribadi tentang buku, nostalgia dan kehidupan — ditulis perlahan, dari hati, untuk mereka yang mencari makna dalam cerita biasa.