Langkau ke kandungan utama

Catatan

Menunjukkan catatan yang berlabel CATATAN PUISI

Catatan Puisi #8: Cahaya & Bayang

  Catatan Puisi #8: Cahaya & Bayang Cahaya dan bayang: dua sisi yang tak pernah bersatu, tapi tak pernah berpisah. Kata Pengantar Ada cahaya yang masuk dari celah jendela, dan ada bayang yang menunggu di lantai. Mereka tidak pernah benar-benar bersatu, tapi keduanya tidak pernah berpisah. Begitu juga dengan hati — ada sisi yang ingin bersinar, dan ada sisi yang memilih untuk diam dalam redup. Antara terang dan gelap, kita belajar membaca bahasa yang tak tertulis: dengung senyap yang mengingatkan, “di sini engkau masih hidup.” Pagi membawa cahaya yang jujur; ia singgah di meja, menimang buku, dan menyentuh dinding tanpa memohon izin. Senja membawa bayang yang panjang; ia bersandar di lantai, sambil memeluk sudut-sudut rumah yang kita selalu lupa. Di antara dua kunjungan ini, kita menjadi manusia — yang kadangkala berani memandang, dan kadangkala hanya mampu memejamkan mata sambil berdoa. Catatan ini bukan tentang...

Catatan Puisi #7: Larik Diam

  Catatan Puisi Catatan Puisi #7: Larik Diam Dalam larik yang diam, ada cerita yang tidak pernah terucap, hanya hati yang memahami. Puisi tentang rindu yang tidak terucap — ketika degup lebih jujur daripada kata. Malam itu hujan renyai mengetuk kaca jendela seperti jari-jari halus yang sabar. Lampu meja memantulkan cahaya ke helaian buku catatan yang sudah lama tak dibuka. Di ruang yang sederhana itu, saya teringat sesuatu — bukan peristiwa besar, hanya serpihan memori yang datang perlahan-lahan. Ada nama yang tak lagi saya sebut, ada pesan yang tidak pernah dihantar, dan ada rasa yang saya pelajari untuk dipelihara dalam sunyi. Dari situ, puisi ini menemukan jalannya: larik-larik yang memilih diam sebagai bahasa. Puisi :Larik Diam Di bawah langit yang menyimpan rahsia, aku berjalan tanpa peta. Bintang-bintang jatuh tanpa bunyi, mencari dada yang sudi menampungnya. ...

Catatan Puisi #6: Cahaya Kecil di Hujung Jendela

  Catatan Puisi #6: Cahaya Kecil di Hujung Jendela “Kadang, cahaya paling kecil di hujung jendela itulah yang membuat kita bertahan, walau malam di luar terlalu panjang.” Kata Pengantar Malam ini, cahaya yang masuk dari celah langsir terasa lembut. Aku duduk diam, membiarkan bunyi jam berdetik jadi lagu latar. Entah kenapa, namamu singgah lagi. Bukan sebagai panggilan di bibir, tapi sebagai doa yang aku ulang tanpa suara. Ada cahaya yang tak pernah kita cari, tetapi entah bagaimana ia menemukan kita—diam, dan kecil, namun cukup untuk membuat kita menoleh dan berhenti. Cahaya begini tidak datang dengan drum dan trumpet; ia tiba seperti hembusan angin yang membawa wangi yang kita tak pasti dari mana puncanya, namun kita tahu rasanya: tenang. Di malam-malam yang panjang, ketika jam bergerak tanpa peduli dan fikiran bersesak dengan perkara yang belum selesai, ada detik-detik kecil yang membuatkan kita merasa masih manusia. Detik ketika mata...

Catatan Puisi #5: Bunga Yang Tak Pernah Diberi

  Catatan Puisi #5: Bunga Yang Tak Pernah Diberi  Ilustrasi untuk Catatan Puisi #5 — pagi renyai yang membawa bicara hati tanpa suara. Kata Pengantar Ada hadiah yang tidak memerlukan tangan untuk sampai. Ada salam yang tidak memerlukan bibir untuk disebut. Ada bunga yang tidak pernah dihulurkan, namun baunya tetap menenangkan ruang yang tidak terlihat. Kita hidup dalam dunia yang suka mendesak jawapan, memintal makna, dan mengheret rasa untuk berlari. Tetapi ada yang kita pelihara perlahan, seperti menatang setangkai bunga di dalam hati — bukan untuk di pamerkan, dan bukan juga untuk diletakkan di jambangan sesiapa. Cukup disimpan di taman sendiri, agar ketika penat pulang, kita ada sebab kecil untuk tersenyum. “Bunga yang tak pernah diberi” ialah simbol bagi sesuatu yang kita hargai tanpa meletakkan beban pada sesiapa. Ia bukan penafian, bukan juga sembunyi-sembunyi. Ia pilihan paling lembut untuk mengatakan: aku menghormati kau, sepert...

Catatan Puisi #4: Nama Yang Ingin Aku Puisikan

  Catatan Puisi #4: Nama Yang Ingin Aku Puisikan Seorang lelaki duduk bersendirian di bangku taman, dalam kabus pagi yang sunyi — menggambarkan rindu yang tak diluahkan, hanya dipuisikan dalam diam. Kata Pengantar Ada suara yang datang tanpa wajah. Ia tidak memperkenalkan diri, dan tidak meminta untuk dikenali, tetapi ia hadir tepat pada waktunya. Kadang-kadang, ia datang dalam bentuk lagu, dan dalam getar suara seseorang yang tidak kita kenali — tetapi suara itu, entah bagaimana, berjaya menyentuh ruang sunyi dalam diri kita yang paling peribadi. Dan kita terduduk. Terdiam. Bukan kerana cinta, dan bukan juga kerana kagum. Tetapi kerana rasa dihargai — oleh suara yang tidak pernah tahu pun tentang kewujudan kita. Puisi ini lahir bukan untuk menuntut jawapan. Ia bukan tentang mengenali, jauh sekali tentang memiliki. Puisi ini adalah satu bentuk paling ikhlas dari penghormatan — terhadap seseorang yang per...

Catatan Puisi #3: Apa Khabar Mu Di Sana — Puisi Untuk Rindu Yang Diam

Catatan Puisi #3: Apa Khabar Mu Di Sana — Puisi Untuk Rindu Yang Diam Seorang lelaki berdiri di tepi tasik, memandang ufuk mendung yang samar dalam hujan renyai. Kata Pengantar Pernahkah dalam hidup ini kita tiba-tiba teringatkan kepada seseorang, tanpa sebab yang munasabah dan jelas? Seseorang yang pernah hadir dalam hidup kita, walaupun cuma sekejap waktu. Seseorang yang mungkin pernah membuat kita tersenyum dalam diam, atau seseorang itu juga pernah menjadi alasan kukuh mengapa kita merasa kuat pada satu ketika dahulu. Dan kini, tanpa kita sedar, mereka sudah tiada lagi dalam hidup kita. Mereka pergi bukan kerana pergaduhan, bukan juga kerana salah, tetapi kerana perjalanan hidup itu sendiri membawa kita ke arah yang berbeza. Kita tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, tidak sempat menyusun kata terakhir untuk menutup cerita. Yang tinggal kini cumal ruang kosong yang tak pernah bakal terisi. Puisi ini adalah doa yang tidak bersuara. Ia ...

Catatan Puisi #2: Perpisahan Yang Tak Pernah Berlaku

🎵Catatan Puisi #2: Perpisahan Yang Tak Pernah Berlaku Kadangkala, perpisahan yang paling dalam ialah yang tidak pernah berlaku — hanya tinggal dalam diam dan pandangan yang tak sempat dijelaskan. 💭 Kata Pengantar: Kadangkala, yang paling menyakitkan bukanlah sebuah perpisahan yang kita saksikan dengan mata, tetapi perpisahan yang senyap — yang tak sempat diucapkan, yang tak sempat difahami. Ia tidak hadir sebagai babak dramatis dengan air mata dan pelukan terakhir, tetapi sebagai ruang kosong yang tiba-tiba wujud, dan kita tak tahu bila ia bermula. Perpisahan seperti ini tidak meninggalkan kita dengan jawapan, hanya pertanyaan. Ia tidak membawa noktah, hanya koma yang berlarutan. Kita masih berada di halaman yang sama, tetapi tidak lagi membaca cerita yang sama. Dan kita terus hidup begitu — dengan kenangan yang tergantung, dengan rindu yang tidak bernama. Dalam catatan kali ini, saya titipkan sebuah puisi tentang kehilangan yang tidak pernah diumumkan, tentang rasa yang...