Kau Dian Ku — Bila Cahaya Menjadi Doa
“Ada cahaya yang tidak menjerit—tetapi cukup untuk membuat hati kembali percaya.”
Kau Dian Ku — Bila Cahaya Menjadi Doa
Siri: Catatan Puisi / Artikel Puitis • Genre: Reflektif, penghargaan, metafora cahaya
Kredit Ilham: Idea & puisi asal ditulis oleh Nurcinta__19 (Umi).
Terima kasih atas rasa yang jujur dan lembut—yang membuat “dian” dalam puisi ini terasa hidup, bukan sekadar kata.
Ada orang hadir dalam hidup kita bukan dengan suara yang kuat, tetapi dengan cahaya yang sabar. Dia tidak pernah bertanya banyak, dan tidak menuntut kita menjadi siapa-siapa. Dia cuma hadir — dan entah bagaimana, gelap yang kita simpan lama-lama itu menjadi sedikit reda.
Bila Umi kirim puisi ini dan bertanya, “Remy dah baca belum?”, Remy terdiam sekejap. Sebab puisi “Kau Dian Ku” bukan sekadar puisi. Ia seperti satu cara hati berkata: “Aku sanggup menyala, asalkan kau tidak hilang arah.”
🎵Puisi Asal Umi (Nurcinta__19)
“Kau Dian Ku”
— Puisi oleh Nurcinta__19 (Umi)
💫Huraian Puitis: Dian, Gelap, dan Cinta yang Tidak Minta Balasan
Dalam puisi ini, “dian” bukanlah sekadar lilin. Dian ialah lambang satu jenis kasih yang jarang orang berani bawa: kasih yang tidak menekan, tidak mengikut, dan tidak menyuruh kita menjadi “sempurna” dulu baru layak disayangi.
Umi menulis tentang cahaya yang sanggup terbakar — dan itulah bahagian yang paling menyentuh hati. Sebab ada manusia yang bila sayang, dia bukan datang untuk mengambil… dia datang untuk menjaga. Dia mungkin lelah. Dia mungkin diam. Tapi dia tetap di situ — menjadi tanda bahawa malam tidak semestinya menang.
Yang buat puisi ini terasa “ikhlas” ialah pengakuan tentang pengorbanan: “Walau fajar menyingsing… kau tetap di sisi.” Maksudnya, dian itu bukan hanya untuk malam — dia juga tanda setia yang tinggal walau dunia sudah terang. Kerana bagi hati yang pernah gelap, terang luar tidak semestinya bermakna terang di dalam.
Apa yang Remy Dengar di Sebalik Kata
Remy rasa puisi ini membawa satu mesej yang halus: “Kalau kau penat, berehatlah. Kalau kau takut, aku faham. Kalau kau sunyi, aku ada.” Kadang-kadang, ayat yang kita paling perlukan bukan ayat yang panjang — tapi ayat yang membuat kita rasa selamat.
Dan bila Umi sebut “Terima kasih Dianku”, itu macam satu penutup yang manis tetapi dalam — seolah-olah Umi sedang mengucapkan terima kasih kepada cahaya yang dia sendiri pilih untuk percaya. Ada keberanian di situ: keberanian untuk mengaku, “Aku menghargai kehadiranmu.”
Penghargaan Sesungguhnya
Umi (Nurcinta__19), terima kasih kerana memberi ilham yang tidak dibuat-buat.
Dengan satu puisi, Umi mengajar Remy bahawa cinta yang matang bukan yang bising —
tetapi yang sanggup menyala perlahan, cukup untuk menjaga satu jiwa daripada tenggelam.
🌿Refleksi Penulis
Ada hari kita tak perlukan jawapan. Kita cuma perlukan satu “dian” — bukan untuk menyelesaikan semua masalah, tetapi untuk menemani kita berjalan sedikit lagi. Dan bila seseorang memilih untuk hadir seperti itu, kita patut menghargainya: dengan adab, dengan jujur, dan dengan hati yang tidak bermain-main.
📝Nota Penulis
Artikel ini ditulis sebagai penghargaan kepada (Nurcinta__19) atas puisi asal “Kau Dian Ku”. Jika anda pembaca yang sedang melalui malam yang panjang: anda tidak perlu membuktikan apa-apa untuk layak disayangi. Pegang satu cahaya kecil hari ini — doa, sahabat yang baik, atau kata-kata yang menenangkan — dan teruskan melangkah.
💌 Langgan Blog Dengan Jiwa
Jika tulisan begini pernah singgah di hati, langganlah—biar setiap catatan baru sampai sebagai cahaya kecil, bukan kebetulan.
“Kadang-kadang, satu cahaya kecil yang konsisten lebih menyelamatkan daripada seribu janji yang besar.”
📚 Baca Artikel Lain
- Koleksi Cerpen Alya (Episod 1–5)
- Catatan Awal Pagi (wajib singgah)
- Catatan Puisi
- Sebelum Semua Ini Hanya Tinggal Lagu
Teaser kecil: Ada puisi lain yang sedang menunggu untuk ditulis—tentang rindu yang terpendam, dan bagaimana hati memilih untuk tetap beradab walau bergetar.
✍️ Ditulis oleh Eamyz Remy Jalal — menulis dari hati, tentang hidup, rasa dan cerita kecil yang ada makna.



Ulasan
Catat Ulasan
Terima kasih kerana baca sampai sini. Kalau ada rasa yang sama, pengalaman serupa, atau sekadar nak tinggalkan jejak_ saya hargai sangat. Jangan segan, komen je😌